Welcoming our precious baby girl “Nesya Kirana Nugroho”

Alhamdulillah telah lahir putri pertama kami, yang kami beri nama Nesya Kirana Nugroho yang artinya anugerah putri yang bersih suci & cantik bersinar. pada tanggal cantik 15 November 2015 di RS Siloam Kebun Jeruk Jakarta melalui Operasi Caesar.

Cerita dibalik proses kelahirannya cukup unik, bikin panik, dan deg degan bagi saya,suami dan keluargaku. Jadi umur kehamilanku pada saat melahirkan nesya due datenya maju 2 minggu, jadi masih terhitung cukup bulan (37w3d) padahal bayi lahir idealnya pada minggu ke 38-40.

Malamnya pada tanggal 14 november, malah saya & suami masih hangout dengan sahabat sahabat SMA saya karena kebetulan mereka mengadakan acara bachelorette untuk salah satu sahabat saya Mulpa & sekaligus baby shower untukku. Saya sama sekali tidak merasakan kontraksi apa apa, bahkan sejujurnya ngerasain kontraksi simultan aja belum. sedikit cerita ttg baby showerku, jadi konsepnya jungle theme dengan aksesoris kain dan juga bando unicorn pink, teman teman yang lain ada yg pakai bando kelinci, maleficient, harimau,dll dan acara ini diadakan di warung turki, tempatnya cukup cozy untuk ngobrol ngobrol santai



gile, kurang hits apa coba ini surprisenya. thank you ya gengs❤ happy & berkesan banget ^^

Sepulangnya dari acara ini, saya & suami beristirahat tidur seperti biasa, ketika itu waktu menunjukkan pukul 11 malam.

Pukul jam 1 malam, tiba tiba saya terbangun karena dedek menendang keras sekali di dalam perut. saya refleks membangunkan galih,namun dia hanya membuka mata sedikit dan kembali tertidur,zzz. lalu, setengah jam kemudian terjadi hal serupa  barulah galih bangun dan menenangkan saya, mungkin habis ini udah tenang. yuk bobo lagi.

Setengah jam kemudian terjadi lagi, kami berdua bingung, dan berusaha menebak-nebak apa ini kontraksi ya? mungkin baru permulaan atau bisa jadi kontraksi palsu? Sembari memikirkan,galih mulai mengambil hpnya dan mensetting stopwatch untuk tau jedanya dan saya berusaha untuk rileks sambil tarik nafas.

Pukul 2.30-3.00 dini hari jeda kontraksi ini sudah menjadi 10 menit sekali, karena saya panik. Saya meminta suami saya untuk segera berkemas agar jaga-jaga. Karena saya sudah berkemas duluan jauh-jauh hari.

Pukul 3.30, saya ingin bangun dari tempat tidur karena kebelet pipis. Tiba-tiba dari bawah saya merasakan ada yg pecah dan air tersembur banyak keluar sehingga membasahi baju tidur saya sampai kaki. Spontan saya teriak sambil menangis memanggil suami saya, karena saya curiga ini adalah air ketuban. Galih langsung buru-buru ke kamar mama untuk membangunkan mama dan mamaku terlihat panik sekali karena semenjak alm.papa meninggal, mama agak sedikit trauma jika ada yang mengagetkan atau membuat panik di pagi hari.

Mama kemudian memegang air yang ada di kakiku,kemudian mamaku mengiyakan ini air ketuban. Tanpa pikir panjang,saya langsung ganti baju,membawa perlengkapan yang dibutuhkan untuk ke RS sembari membungkus badan saya dengan handuk karena air ketubannya mengalir terus😦

Kami bertiga bergegas ke siloam dan saya dibawa ke UGD, kali itu saya sangat deg-degan karena belum pernah sekalipun dibawa ke UGD dan dilakukan berbagai pengecekan. Mana saat itu saya belum mandi,belum sarapan dan bahkan belum tidur! :'(( jackpot banget ga si.

Kemudian staff UGD membawa saya ke kamar bersalin, agar dicek lebih lanjut oleh suster disana. Sesampainya di kamar bersalin,kondisi saya makin lemas dan kontraksi yang terjadi makin sakit dan simultan ditambah dengan air ketuban yang mengalir terus. Saya khawatir jika air ketuban ini habis dan terjadi apa apa dengan anakku.

Suster melakukan cek EKG & CTG untuk rekam detak jantung bayi & kondisi ibu. Alhamdulillah bayiku denyutnya masih normal. Saya sudah pasrah dan rasanya mau cepet cepet dilahirkan aja karena kontraksinya sudah hampir semenit sekali, hiks hiks.

Setelah 5 jam menunggu, Dokter kandungan saya beserta para tim medis memutuskan untuk operasi SC karena kondisi ibu sudah ketuban pecah dini dan kondisi bayi terakhir sungsang (waduh nak minggu lalu terakhir kontrol kepala kamu udah dibawah, berarti kamu aktif banget yah :0)

Sesaat sebelum masuk ke ruang operasi, kami melakukan doa bersama agar operasiku lancar kemudian mama & galih bergantian memeluk & menciumku sambil menangis.

operasi SC dilakukan, tim dokter dibawah koordinasi dokter Ratzarwin mulai melakukan suntik anestesi untuk bagian tubuhku setengah kebawah dan dimulailah pembedahan. Saya tidak merasakan sakit sama sekali, Alhamdulillah. tiba tiba beberapa belas menit kemudian suara bayiku terdengar dan dia menangis kencang, segeralah dia dibalut dan dibersihkan terlebih dahulu kemudian baru didekatkan kepada saya, cantiik sekali dan saya menciumnya sambil menangis terharu. Ya Allah, terima kasih atas anugerah yang telah kau berikan :’)

Setelah operasi selesai dan saya diminta beristirahat sejam untuk pemulihan anestesi. Saya berganti baju & ranjang untuk dibawa ke ruang rawat inap. Keluar dari ruang operasi, saya disambut senyuman suami saya, kedua mertua, adik dan mamaku yang sudah setia menunggu di luar.

Di ruang rawat inap, saya diajak ngobrol dan diminta untuk istirahat agar tidak terlalu capek. Baru diizinkan minum sore harinya karena setelah operasi saluran pencernaanku masih beradaptasi untuk pemulihan dulu.

Rasanya pada saat itu plong banget, Alhamdulillah dedek nesya sehat dengan berat sebesar 2,94 kg dan panjang 48 cm. Semua kejadian ini ada hikmahnya, dan Alhamdulillah pada saat itu hari minggu, ga kebayang deh kalau ketuban pecah pas amit-amit lagi di kantor atau di tempat lain.

Di RS Siloam ini punya fasilitas lengkap untuk bersalin, namun kamar rawat inapnya tidak banyak, sangat eksklusif, beruntunglah lami masih dapat slot kamar rawat inap VIP pada hari itu.

Selama 4 hari 3 malam, saya dirawat dan suami saya siaga menemani sambil mengerjakan kerjaan kantornya karena di kamar ini ada fasilitas wifi juga. beberapa teman terdekat dan teman kantor datang menjenguk, excited bgt!

Kami berdua baru ketemu dedek nesya pasca maghrib, karena sore harinya kami langsung dijenguk oleh keluarga besar mama, info dari suster jika ada orang ramai bayinya jangan dibawa ke kamar dulu agar tidak tertular yang aneh aneh.

ini diaa.. halooo kesayangan papa & bunda❤

Bahkan pas bunda posting foto kelahiran dedek di facebook, yang ngeLIKE buanyaak banget dek! kamu baru lahir aja udah kaya artis,hihihihi :p 

Beberapa hari selama di RS, saya dan suami saya manfaatkan untuk banyak bertanya kepada suster bayi disini dari mulai:

– cara menggendong bayi yang benar

-posisi menyusui dan pelekatan puting yang baik (jika putingnya masih luka atau lecet berarti bayi belum menempelkan mulut pada puting dengan baik)

– mengecek ASI sudah keluar atau belum, jadi putingku dipencet dan jika ASI tsb sudah keluar biasanya ada cairan berwarna kuning (colostrum) atau berwarna bening (foremilk) atau berwarna seperti susu (hindmilk). Jujur pada saat itu ASI saya masih sangat sedikit, karena supply ASI sangat dipengaruhi kondisi Ibu pasca melahirkan apakah ada trauma melahirkan,kondisi mental yg belum siap atau kondisi puting yg abnormal misalkan putingnya masuk ke dalam (inverted nipple) dll. tips dari susternya: sebisa mungkin susui terus karena isapan bayi membantu hormon prolaktin pada Ibu untuk memproduksi ASI lebih banyak

– cara membedong bayi, sebenarnya bedong ini kayaknya di dunia kedokteran pro & kontra, karena bedong dapat mengganggu pernafasan bayi tapi kalau ikutin tradisi ibu ibu dulu kalau bayi ga dibedong nanti kakinya O. yaaa ikutin aja kepercayaan masing masing lah yaa🙂

-cara memandikan bayi: sabun bayi bbrp tetes dimasukkan ke air hangat, kemudian dibasuh ke bayi pakai waslap. untuk bagian pusarnya dipakaikan kain swab alkohol 70% agar terhindar dari infeksi atau kotoran lain.

daaan masih banyak lainnya..

mendekati hari kepulangan nesya, ternyata ada sedikit kabar buruk. Anakku kuning.. waduh, terus gimana dok?

karena bilirubinnya cukup tinggi di 14 sehingga anakku difototerapi selama 1×24 jam, antara rela & ga rela anakku harus menginap lagi di RS. suamiku care banget bawain ASI pumpingku walaupun masih sedikit ke RS agar dedek bisa asup nutrisi selama disinar.

keesokan harinya, setelah pengecekan bilirubin ulang dan info dari dokter anak kami bilirubinnya sudah turun menjadi 11. Alhamdulillah ya Allah.. :’) namun karena ada potensi kadar bilirubinnya kembali tinggi maka aku harus support ASI terus setiap 2-3 jam sekali bayiku harus disusui dan juga rajin dijemur matahari antara jam 7-9 pagi selama 30 menit.

Sebagai orang tua baru, kami berdua masih awam dengan beberapa permasalahan bayi baru lahir, bayi kuning ini ada beberapa penggolongan, jika kuningnya cukup parah bahkan sampai ke tangan maka treatment fototerapinya akan lebih lama atau bahkan perlu transfusi darah. karena jika bayi kuning akut akibatnya akan sampai ke syaraf otak😦

Awalnya kami sempat ragu apakah nesya perlu difototerapi atau tidak. tapi setelah berdiskusi lanjut dengan dokter,memang fototerapi ini paling efektif untuk menurunkan bilirubin dengan cepat ke batas normalnya (11)

oleh karena itu harus banyak belajar  dunia parenting🙂 dan pintar pintar menerima informasi di era social media seperti sekarang.

Terima kasih sebesar-besarnya untuk Dokter Ratzarwin Nazar beserta staff medis yang sudah membantu saya selama persalinan. Semoga Allah SWT membalas jasa kalian dengan pahala dan berkah yang setimpal, aamiin..

Jakarta, 15 November 2015

from your mom Cindy Firiera Darwis & your dad Galih Nugroho❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s